Rabu, 16 Juni 2010

Secuil tentang Hidup. . ♥

Hidup itu adalah pilihan. Arah dan langkahnya, kita yang menentukan. Seperti sebuah cita-cita, seperti sebuah angan-angan di dalam benak kita…terlihat maya untuk kita ketahui apa yang akan terjadi di depan sana… Untuk meraih kehidupan yang lebih baik, orang lain hanya bisa membantu, namun keputusan tetap ada pada diri kita…

Terkadang, kita memang terjatuh, lalu melemah, bahkan terkadang juga, hidup kita menjadi tak terkendali. Itu manusiawi. Tapi kita harus segera sadar dan memijakkan kaki kita, agar dapat tetap tegak berdiri, karena seringkali, hidup ini tiada toleransi. Bisa saja kita hidup dalam bayang-bayang rasa takut dan rasa cemas. Namun itu semua akan membuat kita makin jauh dengan harapan. Karena untuk membangun sebuah harapan, kita harus bisa mengendalikan diri kita sendiri, memotivasi diri, dan meyakinkan akal dan pikiran kita, bahwa kita dapat bangkit dari tekanan serta beban hidup yang sedang kita hadapi.

Kehidupan rasanya tak akan pernah lepas dari sebuah cerita kisah kasih di antara 2 anak manusia... Sukacita, harapan, kesenangan, bahagia, ketakutan, sedih, lelah, amarah, sesal, kesal dan juga menyesal... Semua yang harus dijalani, bak dongeng yang dikisahkan sedemikian rupa, tak jarang penuh dengan liku-liku hidup yang menyengsarakan, menyakitkan, bahkan mungkin tak terlupakan…

Berikut adalah kisah seorang gadis yang dalam usianya yang tergolong dini, merasa sudah menemukan cinta sejatinya. Benar-benar cinta sejati, seolah bocah pujaan hatinya tersebut mampu membuatnya bahagia sampai akhir hayat, bahkan mampu pula terkadang menyayat-nyayat hati, jiwa, dan cintanya yang tulus murni bagaikan bening embun di pagi buta.

Samantha namanya. Jessica Samantha Zevania. Adalah seorang gadis biasa, yang lahir dalam keluarga yang bersifat perfeksionis. Ia tak mempunyai seorangpun saudara, anak tunggal yang hidup dan dibesarkan dalam kedisiplinan yang cukup tinggi. Awalnya, walaupun seolah segalanya dapat ia jalani dengan sempurna dengan kebiasaan hidup yang serba teratur dan dinamis, acapkali ia merasa jenuh dan tak tahan menjalani irama kehidupannya, tetapi ia mulai mampu mengendalikan kejenuhannya dengan bergembira bersama teman-teman yang sangat ia cintai.

Samantha mulai beranjak dewasa, sudah tiba saatnya ia mengalami dan merasakan pahit-manis, lurus-terjalnya kehidupan remaja. Diawali dengan hidupnya sebagai siswa baru di sebuah SMP swasta elit di kotanya. Mantha, begitu panggilan kesayangan yang diberikan teman-teman semasa SDnya, awalnya tak begitu bahagia menjalani kehidupan barunya di SMP. Perasaannya gundah. Maklum saja, hubungan Mantha dengan kawan-kawan SDnya sangat karib, apalagi sahabat-sahabat Mantha saat SD kebanyakan bersekolah di SMP lain.


Tak ingin berlama-lama tenggelam dalam kesedihannya, Mantha mulai membuka diri untuk bergaul dengan rekan-rekan barunya di SMP. Mulai dari rekan sekelas, secara bertahap ia mulai mengenal dan akrab dengan kawan-kawan di kelas lainnya. Mereka teman-teman baru Mantha pun sangat ramah dan bersahabat. Tiba-tiba saja mereka mampu mengubah Mantha yang awalnya gadis yang pendiam dan tertutup, menjadi Mantha yang dulu, Mantha yang periang dan semangat menjalani hidupnya.

Tak perlu diragukan lagi, Mantha sudah merasa nyaman berada di tengah-tengah lingkungan barunya. Bahkan seringkali Mantha menghabiskan akhir pekan ataupun hari-hari libur untuk bepergian, menonton bioskop, dan jalan-jalan bersama mereka. Mantha merasa mendapatkan kembali kebahagiaannya yang dulu sempat hilang dan pergi seiring dengan perginya sahabat-sahabatnya di masa SD. Mantha benar-benar nyaman dengan kehidupannya kini bersama mereka, seakan tak ada lagi yang mampu membuatnya merasa sedih seperti dulu.

Hari saatnya siswa-siswi mendapatkan raport hasil belajar mereka selama satu tahun telah tiba. Mantha dan semua kawan-kawan satu angkatannya merasa sangat gugup, seakan jantung mereka berdetak tidak sewajarnya, menanti orang tua mereka mengambil raport di guru kelas mereka masing-masing. Angkatan Mantha saat kelas 7 pada waktu itu sangat berbahagia. Mereka dinyatakan naik kelas 100%. Ya, itu merupakan suatu kesuksesan besar yang berhasil mereka raih.

Kini Mantha menjadi siswi kelas 8. Kebetulan di kelas barunya ia belum mempunyai banyak kenalan dari kelasnya dulu semasa kelas 7. Tetapi, tidak butuh waktu lama, Mantha mulai terbiasa dan nyaman pula dengan teman-teman sekelasnya kini. Hidupnya berjalan normal bak air mengalir yang mengikuti arus kehidupan, sampai tiba saatnya Mantha menemukan arus kehidupan yang membelok luar biasa, luar biasa indahnya. Ya, Mantha menemukan Adi, seseorang yang menjadi tambatan hatinya ketika ia beranjak naik ke semester 2 pada saat kelas 8.

Kisah cintanya ini diawali dengan ketidaksengajaan, yang juga sempat menyakiti hati seorang sahabat Mantha, bernama Clarissa. Awalnya, Mantha, Adi, dan Clarissa bersahabat erat. Walaupun dalam posisi Adi dan Clarissa yang sedang pacaran, persahabatan mereka seolah tak terpisahkan oleh badai topan, ombak samudera, atau apapun yang sekira mampu menghancurkan atau memporak-porandakan sesuatu.

Mantha yang semula menyayangi Adi seperti menyayangi seorang sahabat, mulai merasakan perubahan akan perasaannya ketika Adi semakin blak-blakan dalam mengutarakan perasaan sayangnya yang lebih dari sahabat kepada Mantha. Apalagi Adi mengaku akan kedoknya yang menjadikan Clarissa hanya sebagai alat untuk bisa berdekatan dengan Mantha, awalnya Mantha hancur dan tidak dapat menerima alasan Adi. Tetapi lambat laun Mantha sadar, ia tak boleh membohongi perasaannya yang sebenarnya kepada Adi. Didukung oleh berakhirnya hubungan Adi dan Clarissa, Mantha akhirnya menerima Adi menjadi pacarnya, walaupun ia sangat merasa bersalah terhadap Clarissa.

Clarissa yang akhirnya mengetahui hal tersebut, hal yang terjadi antara Adi dan Mantha, sangat merasa terkhianati oleh sahabatnya sendiri yang sangat ia percaya. Perasaan Mantha hancur, ia tidak mengerti apa yang harus ia perbuat untuk memperbaiki hubungannya dengan Clarissa. Adi pun merasa bingung, tetapi ia tetap bersikeras mempertahankan hubungannya dengan Mantha karena yang sebenarnya Adi cintai adalah Mantha, setidaknya itu pengakuan Adi.

Suatu hari Mantha memutuskan untuk berbicara berdua saja dengan Clarissa, ia ingin Clarissa memaafkannya dan mau bersahabat lagi dengannya. Alangkah senang hati Mantha bak seorang tahanan dibebaskan dari penjara. Karena ia menemukan bahwa pintu maaf untuknya telah dibukakan selebar mungkin oleh Clarissa. Mantha merasa sangat lega. Ia merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia.

Hubungan Mantha dengan Adi berjalan sempurna, mereka seakan pasangan yang paling serasi. 3 bulan telah mereka jalani bersama-sama, suka duka dan berbagai macam cobaan dalam hubungan mereka tetapi mereka tetap bertahan. Namun belakangan, Mantha merasakan perubahan yang drastis dalam diri Adi. Adi berubah. Adi bukan seperti Adi yang dulu Mantha kenal. Adi menjadi lebih cuek, egois, pendiam, dan menjauh dari Mantha. Mantha bingung akan perubahan Adi, sampai suatu hari yang kebetulan adalah Hari Kartini pada tanggal 21 April, Adi mengatakan kalau keluarganya tidak setuju akan hubungan mereka berdua. Mantha kembali hancur, seakan dunia berhenti berputar. Akhirnya dengan berat hati Mantha memutuskan hubungannya dengan Adi diakhiri dulu, sampai keluarga Adi merestui hubungan mereka. Meskipun berat, mereka tetap mencoba tegar menjalaninya.

Hari-hari Mantha tanpa Adi berlalu. Mantha merasakan hampa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mantha butuh Adi, Mantha sadar kalau ia hanya sanggup mencintai Adi, setidaknya sampai sekarang. Tetapi kenyataan yang terjadi ternyata semakin menghancurkan hati Mantha. Adi sekarang sudah punya pacar baru, yang kabarnya adik kelas Mantha dan Adi di sekolah mereka. Namanya Fita. Dan yang paling membuat Mantha hancur adalah melihat seolah Adi sudah melupakan semua yang pernah mereka jalani bersama dulu, apalagi Adi tanpa merasa bersalah sedikitpun tetap meminta Mantha mendampinginya sebagai sahabat. Bagai luka baru yang ditetesi jeruk nipis, hati Mantha sangat perih. Tetapi Mantha tetap mencoba menjadi sahabat yang baik bagi Adi. Bagaimanapun juga, Mantha belum bisa melupakan Adi.

Hari-hari berlalu terasa sangat lambat, tiba-tiba Mantha mendengar kabar bahwa hubungan Adi dan Fita telah berakhir. Sejenak sempat terlintas kebahagiaan dalam pikiran Mantha, tetapi ia tak mau gegabah dan egois, Mantha tetap memposisikan dirinya sebagai sahabat dan pendengar yang baik untuk Adi. Satu-satunya lelaki yang ada di hatinya.

Lambat laun Mantha merasa ada perubahan dalam diri Adi. Ya, Adi berubah menjadi Adi yang dulu ia kenal, Adi yang mencintainya lagi. Ada apa dengan Adi? Mantha tidak tahu. Tak seorangpun tahu. Sempat terpikir oleh Mantha kalau Adi adalah tipe lelaki playboy. Tetapi akhirnya Mantha mampu menghapus semua pikiran negatifnya tentang Adi, mendengar penjelasan Adi tentang alasan ia sempat menjadikan Fita pacarnya. Karena rasa sayangnya yang mungkin telalu besar untuk Adi, Mantha menerima Adi kembali menjadi pacarnya.

Tiba saatnya kelulusan SMP, Mantha dan Adi sadar kalau sebentar lagi mereka akan berpisah, entah untuk sementara atau untuk selamanya. Kondisi, kemauan, dan segalanya mengharuskan Adi untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri. Sedangkan Mantha akan melanjutkan sekolah di SMA pilihannya di kota tempat tinggalnya sekarang. Dari pengalaman yang semakin mendewasakan mereka, mereka belajar satu hal, yaitu untuk menyerahkan hidup mereka sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena semua yang terjadi, juga masa depan mereka adalah rancangan yang terbaik yang diberikanNya kepada mereka.

Dengan demikian, cerita ini telah mengajarkan kepada kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan hidup kita di dalam kesedihan atau rasa sesal yang tak kunjung usai. Masih ada yang bisa kita raih. Masih ada cinta yang bisa kita rasa. Masih ada sukacita yang bisa membuat kita bangkit dan menjadikan diri kita memiliki kehidupan. Jangan kita gantung rasa sedih dan sesal itu di leher kita. Tapi kita maknai apa yang menjadi beban hidup kita agar dapat kembali melaju di atas sebuah rel baru dalam hidup ini. Rel yang membawa kita memiliki harapan…rel yang membuat kita bisa merasakan kasih dan sayang dari orang-orang di sekitar kita, lagi… Pintu harapan itu ada. Mungkin terlihat tertutup. Namun, untuk mengetuknya saja, kita enggan melakukannya. Bagaimana kita dapat merasakannya kalau kita sendiri tidak mencoba mengetuknya? Ketika orang lain berlomba-lomba meraih kesuksesan dan mencoba mewujudkan mimpi, kenapa kita justru terlena dalam keterpurukkan? Sobat, bangkit…wake-up…ayunkan langkahmu, dan beri kehidupan. Karena ada harapan dan masa depan yang harus engkau rasakan… Kiranya Tuhan Yang Maha Pengasih, menangui dirimu dengan segala harapan, sukacita dan kasih terindah surgawi. Ingat…!!! Belum ada kata terlambat untuk BANGKIT…


NB : Cerpen ini hanya FIKTIF belaka. Apabila ada kesamaan nama tokoh, kejadian, dll, dapat dipastikan hal tersebut hanya faktor KEBETULAN yg unik ;)




CERPEN NARASI SUGESTIF

Jessica Joanne C Mawikere
Live.Laugh.love <3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar